PsikoDeks
Buka Kamus Psikologi
Psikologi KesehatanPsikologi Perkembangan

alergi makanan

food allergy

Ringkasan Singkat

Reaksi berlebihan sistem imun terhadap konsumsi makanan tertentu yang dapat memicu gejala fisik serius hingga kecemasan psikologis.

Alergi makanan adalah reaksi sistem kekebalan tubuh yang berlebihan terhadap konsumsi makanan tertentu, seperti kerang, susu, kacang tanah, gandum, atau telur. Sebagian besar alergi muncul di masa kanak-kanak, tetapi beberapa dapat berkembang di masa dewasa; ada juga kemungkinan seseorang sembuh dari alergi seiring bertambahnya usia. Gejalanya bervariasi mulai dari gatal-gatal, gangguan pencernaan, batuk, pusing, kesulitan bernapas, hingga anafilaksis yang berpotensi fatal.

Manajemen alergi makanan melibatkan penghindaran ketat terhadap alergen, termasuk menghindari kontak silang selama pembuatan makanan, dan kesiapan merespons anafilaksis dengan epinefrin. Kewaspadaan terus-menerus yang diperlukan dapat menyebabkan tingkat kecemasan yang tinggi, terutama pada anak-anak dan keluarga mereka, yang terkadang berkembang menjadi pola perlindungan berlebihan dari orang tua yang justru dapat merusak kepercayaan diri dan fungsi psikososial anak.

Saat ini belum ada obat penyembuh permanen, namun imunoterapi oral, di mana alergen diberikan dalam jumlah yang meningkat secara bertahap, menunjukkan harapan dalam mendesensitisasi pasien dan mengurangi keparahan reaksi alergi.

Referensi Yang Bisa Anda Gunakan

  • APA Dictionary of Psychology
  • Sicherer, S. H., & Sampson, H. A. (2014). Food allergy: Epidemiology, pathogenesis, diagnosis, and treatment. Journal of Allergy and Clinical Immunology.
Ditambahkan: 5 Mei 2026
Diperbarui: 7 Mei 2026

Peringatan Sitasi Akademik

Halaman ini disusun murni sebagai alat bantu pemahaman awal. Dilarang keras mengutip halaman ini sebagai sitasi utama dalam karya ilmiah atau tugas akhir. Silakan gunakan literatur primer yang tercantum pada daftar pustaka.

Feedback